PAMAN KLUNGSU DAN KUASA
PELUITNYA
Di
sekitar jalan simpang tiga dekat pasar, nama Paman Klungsu sudah lama mapan.
Dia adalah sosok yang punya kuasa di tempat itu. Dengan andalan lengking
peluitnya, Paman Klungsu bisa mengatasi kemacetan lalu lintas, terutama di pagi
hari. Pada saat itu, para pedagang laki-laki dan perempuan seperti beradu cepat
mencapai pasar. Mereka naik sepeda atau motor dengan dua keranjang di bagian
belakang. Puluhan anak SMP dan SMA dengan motor yang knalpotnya dibobok juga
berebut keluar dari jalan kampung ke jalan raya. Tanpa helm, tanpa SIM. Tetapi
mereka kelihatan tak peduli dan amat percaya diri. Guru-guru SD, beberapa di
antaranya sudah bermobil ikut menambah kepadatan lalu lintas di simpang tiga
itu. Maka, orang bilang, untung ada Paman Klungsu yang dengan lengking
peluitnya bisa memuat semua menjadi lancar.
Polisi
lalu lintas belum pernah datang di sana. Tetapi, Paman Klungsu biasa memakai
rompi lusuh bercap “Poltas Swakarsa” dengan tulisan spidol. Entah siapa
penulisnya. Selain rompi lusuh warna pupus pisang yang berpendar, Paman Klungsu
juga melengkapi diri dengan peluit plastik warna merah. Meskipun kecil, suara
peluit itu amat nyaring dan terbukti wibawanya ditaati oleh para pengendara.
Orang-orang sering bertanya mana yang paling berwibawa di simpang tiga itu;
sosok Paman Klungsu atau peluitnya.
Empat-lima
tahun yang lalu Paman Klungsu hanya orang lontang-lantung di pasar. Jalannya
pincang. Kaki kirinya kecil dan lebih pendek. Sebatang kara, di malam hari jadi
peronda pasar. Di siang hari jadi kuli angkut yang membawakan barang milik
pedagang dari dalam pasar ke pinggir jalan atau sebaliknya. Para pedagang
memberinya seratus atau dua ratus rupiah. Itu bekal Paman Klungsu untuk pergi
ke warung nasi rames milik Yu Binah di belakang pasar.
Sekarang
Paman Klungsu tidak lagi mengangkut-angkut barang milik pedagang. Dia merasa
telah naik pangkat menjadi-dia menyebutnya sendiri-poltas swakarsa, yang amat
dia banggakan. Apalagi Paman Klungsu juga sering mendapat uang receh. Itu
pemberian sopir-sopir yang merasa bersimpati. Mereka menghargai jasa Paman
Klungsu yang punya prakarsa mengatur lalu lintas di simpang tiga.
Pada
awalnya Paman Klungsu sering dicibir orang. “Ah, kamu cuma polisi non-batu,
polisi-polisian. Kamu hanya berani mengatur pedagang dan anak sekolah, tapi
tidak berkutik bila yang lewat pejabat atau moge. Kamu juga selalu
mengistimewakan Yu Binah. Kalau perempuan itu lewat selalu kamu bukakan jalan.”
Ketika
menerima cibiran itu, Paman Klungsu hanya diam. Namun sebenarnya dia sungguh
tersinggung. Jadi suatu kali dia bergerak cepat ketika ada sebuah mobil
bersipongah mau melanggar aturannya. Dengan langkah terpincang-pincang, Paman
Klungsu menghadang mobil bagus berpelat merah itu. Paman Klungsu berdiri tepat
di depan mobil, tangan kanannya tegak lurus. Tetapi, kaki kirinya bersijingkat
karena lebih pendek. Peluitnya melengking-lengking sekerasnya. Pengendara mobil
itu mendengus dan berhenti dengan mata membulat. Kemarahan muncul penuh di
wajahnya. Tetapi, Paman Klungsu bergeming. Dan di luar dugaan Paman Klungsu
semua orang di simpang tiga bertepuk tangan mendukungnya. Peluit Paman Klungsu
melengking makin nyaring dan bertubi-tubi. Tangan kanannya tetap menjulang ke
atas. Orang- orang bersorak makin riuh.
Sejak
peristiwa itu, Paman Klungsu makin percaya diri dan merasa lebih gagah. Dia
senang karena ternyata orang-orang berada di pihaknya. Maka, dia mengulangi
sikap itu; tidak mengutamakan siapa saja yang lewat. Juga barisan puluhan moge
yang menderu menggila dari barat pada Jumat dan menggelegar pongah balik dari
timur pada Ahad. Maka, Paman Klungsu dengan peluitnya adalah sosok kekuasaan
yang nyata di simpang tiga itu. Sayangnya, orang-orang juga masih jadi saksi
peluit Paman Klungsu tak pernah melengking nyaring terhadap Yu Binah. Bila dia
lewat, Paman Klungsu selalu mendahulukannya, dengan keramahan yang nyata pula.
Terhadap Yu Binah, peluit Paman Klungsu seakan bisu.
Ketika
sedang istirahat pada suatu tengah hari di emper toko, ada orang bertanya, “Ah,
kamu ternyata tetap mengutamakan Yu Binah. Ada apa ya? Awas, Yu Binah punya
suami; kamu jangan macam-macam.”
Pertanyaan
itu membuat Paman Klungsu ketakutan. Wajahnya mendadak beku. Bibirnya gemetar.
Dia tergagap, dan kata-kata yang kemudian diucapkan terdengar patah-patah.
“Yu
Binah? Iya. Dia memang punya suami. Dan saya tidak mengapa-apakan dia.” Paman
Klungsu gugup. Namun, lama-kelamaan bicaranya lebih tertata. Katanya, dia
banyak berutang budi kepada Yu Binah. Penjual nasi itu suka memberinya rames
lengkap berapa pun Paman Klungsu membayarnya. Menyadari uangnya sering tidak
cukup, tambahnya, dia biasa hanya minta nasi dan air putih. Lauknya cukup kecap
dan sambal yang memang disediakan cuma-cuma. Tetapi, Yu Binah tetap memberinya
nasi rames lengkap dengan taburan bawang goreng, tahu atau tempe, bahkan kadang
ikan juga.
“Taburan
bawang goreng di atas nasi hangat, ditambah sambal dan kecap, wah!”
“Jadi
hanya karena bawang goreng, kamu merasa harus mengutamakan Yu Binah?”
Paman
Klungsu tersipu, kemudian meneruskan penjelasannya. Katanya, ada sesuatu yang
sangat mengesankan pada Yu Binah, yaitu gerak tubuh, terutama kedua tangannya
ketika Yu Binah menyiduk nasi dari bakul lalu menampungnya dengan piring.
“Itu
seperti tangan orang menari, atau apa. Itu pantes banget, perempuan banget.
Tidak semua perempuan bisa seperti itu,” tambah Paman Klungsu.
Orang
yang mendengar ucapan Paman Klungsu tertawa.
“Ah,
kamu mengada-ada saja. Cuma bawang goreng dan gerak tangan perempuan menyiduk
nasi mengapa kamu begitu terkesan?”
Jawaban
Paman Klungsu keluar lagi setelah dia berdiam diri. Dia mengaku dirinya orang perasa
sehingga mudah tersentuh oleh keanggunan yang tampak olehnya. Apalagi,
tambahnya, keanggunan gerak Yu Binah ketika menyiduk nasi selalu disertai
ketulusan yang nyata terlihat di wajahnya.
***
Ini
jam 9 pagi, lalu lalang di simpang tiga sudah mereda. Anak-anak sekolah, para
guru, dan pegawai sudah lama sampai ke tempat kerja masing-masing. Yang masih
berkendara lewat simpang tiga hanya orang-orang yang mau pergi atau pulang dari
pasar. Udara mulai panas dan suara lengking peluit buat sementara tak terdengar.
Karena tidak padat, arus kendaraan bisa mengalir lancar meskipun tanpa lengking
peluit Paman Klungsu. Ke mana dia?
Dengan
bekal uang seribu lima ratus pemberian tiga sopir yang menyadari perut siapa
pun harus diisi nasi, Paman Klungsu masuk ke warung Yu Binah. Di depan pintu
warung lelaki pincang itu berpapasan dengan dua pedagang yang baru selasai
makan nasi rames. Paman Klungsu duduk sendiri, meletakkan peluitnya di atas
meja, lalu menyulut rokok. Yu Binah menyambutnya dengan senyum. Ah, Paman Klungsu
tidak akan melepaskan peluang menikmati keanggunan gerak Yu Binah ketika
perempuan itu sedang menyiapkan nasi rames. Atau, barangkali Paman Klungsu
sulit menjawab bila ditanya, mana yang lebih dia sukai, keanggunan gerak Yu
Binah atau nasi ramesnya.
“Yu,
uangku cuma seribu lima ratus.”
“Ya,
tidak apa. Ah, sejak pagi kamu kerja keras tiup-tiup peluit di simpang tiga.
Jadi perutmu tentu lapar. Sekarang makanlah sampai kenyang.”
“Dengan
uang seribu lima ratus ya, Yu?”
“Ya,
itu kan biasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu sudah lama mengenal aku, kan?”
Yu
Binah memutar badan, mengambil satu piring lalu bergeser ke dekat wadah nasi,
mengangkat ciduk. Paman Klungsu menatapnya dari samping dengan mata tanpa
kedip. Rokoknya dibiarkan tak tersentuh di atas asbak dengan asap terus
mengepul. “Itu betul sebuah lenggang yang pantes banget, dan aku tidak akan
bosan melihatnya,” ujar Paman Klungsu dalam hati. Dan kemudian hatinya merasa
sejuk seperti diguyur air ketika Yu Binah menyorongkan piring itu. Isinya penuh;
nasi putih dengan taburan bawang goreng dan sayur buncis. Wadah sambal, botol
kecap, dan segelas air putih disorongkan juga.
“Ayo
makan. Kamu tentu sudah lapar.”
Suara
itu terasa seperti dendang alam di telinga Paman Klungsu. Ketika sekejap
menengadah, Paman Klungsu juga melihat wajah tulus itu. Mata yang jernih,
senyuman yang polos, sederhana. Paman Klungsu menunduk, memperhatikan rokok di
asbak yang hampir habis tanpa diisap. Menarik napas panjang, lalu menarik
piring lebih dekat. Aroma bawang goreng membangkitkan seleranya. Dan Paman
Klungsu sadar, harga nasi rames yang sedang dimakan pasti di atas seribu lima
ratus.
Selesai
makan, Paman Klungsu minta diri dengan cara orang yang amat mengerti berterima
kasih. Meskipun tahu dari jam sembilan sampai jam satu lalu lintas di simpang
tiga tidak ramai, Paman Klungsu tidak mau terlalu lama meninggalkan tempat itu.
Namun, sampai di depan pasar Paman Klungsu harus berhenti. Yu Binah
memanggil-manggilnya dari belakang. Yu Binah berjalan tergesa-gesa, tangan kirinya
menjimpit sesuatu dengan ibu jari dan telunjuk. Menahan rasa jijik. Tangan
kanannya menutup hidung dan mulut.
“He,
ini, peluitmu tertinggal. Idih, ampun! Baunya busuk sekali,” kata Yu Binah
dengan suara teredam oleh bungkaman tangan sendiri. “Peluitmu selalu kena ludah
tapi tidak pernah kamu cuci ya? Idih, minta ampun busuknya!”
“Begitu
ya, Yu? Tetapi, peluitku amat penting. Bunyinya berkuasa mengatur simpang
tiga,” jawab Paman Klungsu sambil berusaha menangkap peluit yang dilemparkan Yu
Binah ke arahnya.
“Iya,
lah, aku tahu. Namun, mengapa peluitmu yang punya kuasa itu harus bau busuk?
Ah, cucilah barang busuk itu. He, dengar. Kamu jangan ke warungku sebelum
peluit itu kamu cuci. Benar ya?”
Paman
Klungsu mengangguk dan tersenyum. Setelah Yu Binah berbalik, Paman Klungsu
termangu sejenak. Mendadak dia tergoda untuk mencoba merasakan sendiri bau
peluitnya. Maka lubang pada barang kecil itu didekatkan ke hidungnya. O, Paman
Klungsu mendadak tersentak dan berkali-kali bergidik, lalu cuh! Kemudian Paman
Klungsu berjalan terpincang-pincang sambil menunduk, pulang ke simpang tiga.
Panas matahari menyengat kepalanya. Dan peluit sakti yang bau busuk itu tetap
dalam genggaman.
PAMAN KLUNGSU LAN KUWASA
SEMPRITANE
Neng sak andinge dalan simpang
telu cedek pasar, jeneng Pakdhe Klungsu wis sui mapan. Dheweke yaiku wong sing
nduwe kuasa panggonan kui.nganggo andalan suara peluite, Pakdhe Klungsu bisa
ngatasi macet neng dalan gede, luwih luwih ning wayah isuk. Pas dina kui, wong
sing dodolan lanang lan wadon kayata disik disikan teka pasar. Wong dodolan kui
numpak sepedha motor sing ana ranjang e kiwa tengen neng mburi. Akehe bocah SMP
lan SMA nganggo motor sing knalpote dibobok uga royokan metu saka dalan deso
menyang dalan raya. Tanpa nanggo helm, tanpa ndue SIM. Ananging dheweke ketok
ora peduli lan percaya diri. Guru-guru SD, sing wis numpak mobil melu nambah
padete dalan raya simpang telu kui. Mula, uwong ngomong, untung ana Pakdhe
Klungsu nganggo bantere peluite bisa gawe kabeh dadi lancer.
Polisi lalu lintas urung pernah
teka neng kana. Ananging, Pakdhe Klungsu biasa nganggo rompi lusuh sing cap e
“Poltas Swakarsa” nganggo tulisan spidol. Ora weruh sapa sing nulisi. Sak liane
rompi lusuh werna pupus gedhang sing berpendar, Pakdhe Klungsu uga ngelengkapi awak
nganggo peluit plastik werna abang. Senadyan cilik, suara peluit kui banter lan
mbuktekne nduweni wibawa ditaati karo wong sing neng dalan raya. Wong wong sing
tekon ndi sing paling nduweni wibawa neng simpang telu iku; Pakdhe Klungsu
utawa peluite.
Papat-lima taun kepungkur Pakdhe
Klungsu amung wong lontang-lantung neng pasar. Lakune pincang. sikil kiwane cilik uga ndek.
Dhewekan, wayah wengi dadi ronda pasar. Neng wayah awan dadi kuli angkut sing
nggawakne barang nggone wong dodolan saka jero pasar menyang pinggir dalan
gedhe lan sak walike. Wong sing nyambat ngewenehi dhewek e satus utawa rongatus
rupiah. Dhuwik kui di nggo Pakdhe Klungsu kanggo lunga menyang warung sega
rames nggone Yu Binah neng mburi pasar
Sak iki Pakdhe Klungsu ora meneh
ngangkut barang nggone wong dodolan. Dheweke ngerasa uwis munggah pangkat.
Dhewek e ngarani awake dhewe poltas swakarsa,sing di banggak banggakne. Apa
meneh Pakdhe Klungsuuga tau oleh dhuwik receh. Iku olehe ngekeki sopir-sopir
sing ngerasa mesakke. Para pengendara ngeragani jasa Pakdhe Klungsu sing
ndiweni prakarsa ngatur lalu lintas neng simpang telu.
Awal e Pakdhe Klungsu tau dilokne
wong. “Ah, kowe kui amung polisi non-batu, polisi-polisian. Kowe kui amung wani
ngatur wong dodolan karo bocah bocah sekolah, nanging ora bisa apa apa yen sing
lewat pejabat utawa moge. Kowe kui mesti ngistimewakne Yu Binah. Yen wong wadon
kui lewat mesti mbok bukakne dalan.”
Ing awale paman Klungsu kawitan asring dicemoake uwong. ”Ah,, sampeyan mung petugas polisi non-batu, petugas polisi. Sampeyan mung wani ngatur pedagang lan bocah sekolah, nanging ora bisa ngalih yen sampeyan ngliwati pejabat utawa moge. Yu Binah uga seneng. Yen wanita liwat sampeyan tansah mbukak dalan.
Nalika
ditampa, Paman Klungsu mung nglangi. Nanging dheweke pancen kesengsem. Dadi
siji wae nalika dheweke pindhah kanthi cepet nalika ana mobil, dheweke pengin
ngalahake aturan kasebut. Kanthi langkah limping, Pak Hsu Klungsu nyerang mobil
apik kanthi plat abang. Pakdhe Klungsu jumeneng ing ngarep mobil, tangan
tengene jejeg. Nanging, sikil kiwa ditandhingake amarga luwih cendhek.
Pandhuane wis sumelang banget. Pengendara mobil kasebut mendingan lan mandheg
kanthi mata bunder. Anger katon kebak ing raine. Nanging, Uncle Klungsu ora
maju. Lan ora sengaja Pakdhe Klungsu sing ana ing persimpangan saka telung
klambi mau banjur ngajak. Pakdhe pakdhe pakurmatan ngeculake luwih akeh. Tangan
tengene tetep munggah. Wong-wong padha nguwuh kanthi swara sora.
Wiwit
kedadean kasebut, Pak Hsu Klungsu luwih percaya diri lan tambah manawa. Dheweke
seneng banget amarga wong iku ana ing sisihane. Dadi, dheweke ngelingake sikap
kasebut; aja menehi prioritas sapa sing liwat. Uga ana puluhan moguls roaring
sing metu saka sisih kulon ing Jumat lan bali menyang sisih wétan, Minggu. Dadi,
Pak Purwa Klungsu karo jarahane dadi tokoh sing kuat ing persimpangan kasebut.
Saliyane, wong-wong uga isih nyekseni kacamata Klungsu pamane ora tau nyerang
Yu Binah. Nalika dheweke liwati, Pak Hsu Klungsu tansah ngetrapake dheweke
dhisik, kanthi rasa seneng banget. Yu Binah melu, peluit Pak Ubi Klungsu katon
bisu.
Nalika
istirahat ing tengah dinane ing kaisar toko, ana wong sing takon, "Ah,
sampeyan wis ngetokake Yu Binah. Ana apa? Awas, Yu Binah ndue bojo sampeyan ora
kena kekacoan
Pitakonan
kasebut ndadekake Pakdhe Klungsu ketaman. Weruh dheweke tiba-tiba beku. Lambene
dheweke gemeter. Panjenenganipun nganglangi, lan tembung-tembung sing banjur
diucapake kanthi rusak.
“ Yu
Binah? Inggih. Dheweke ancen wes nduwe bojo. Lan aku ora ngapak- ngapakne deweke“
Pakdhe Klungsu ngewel. Nanging, suwe-suwe ngandikane diatur. Ngandika, dekne
ana akeh utang budine marang Yu Binah. Bakul sego Rames iku seneng nguwehi sego
rames lengkap piro ae pakdhe klungsu mbayarine. Sadar lak dhuwite ora cukup
kango mbayari, dekne mung njalok sego lan banyu putih. Lawuh ake mung kecap lan
sambel kang gratis. Nanging, Yu Binah isih nguwehi sego rames lengkap nganggo
bawang goreng, tahu utawa tempe, sok-sok uga iwak
.
“
Bawang goreng ning duwur e sego anget. Di tambah sambel lan kecap. Wahhh “
“
Dadi mung amarga bawang goreng, kowe nguwehi prioritas ning Yu Binah ?
Pakdhe
Klungsu kaget, banjur tindak ing kanggo nerangake. Jarene, ana sing kesengsem
banget marang Yu Binah, yaiku polah awak e Yu Binah, utamané nalika Yu
Binah nyiduk sego nganggo 2 tangane saka
wakul lan dikek piring.
Wong sing krungu ngendikane Pakdhe Klungsu
banjur ngguyu.
“Ah. Weki lo enek enek wa. Nggur bawang goreng
lan polah tangan e Yu Binah nyiduk sego wae kowe kesengsem? ”
Jawaban
Pakdhe Klungsu sawise bisu. Dhèwèké ngaku dek ne wong sing gampang nglebokake
ing njero ati sing didelok nganggo panca indran. Menapa, keanggunan gerakane Yu
Binah nalika nyiduk sego ditambah nyiduk e nganggo ikhlas ing ati. katresnan
nyata katon ing pasuryane.
Iki jam 9 esuk, maringaken ing persimpangan ketiga
wis ngurangi. Bocah
sekolah, guru, lan karyawan wis suwe teka ing papan kerja. Apa sing isih nyopir
ing persimpangan saka telung mung wong sing pengin lunga utawa mulih saka
pasar. Angin
wiwit panas lan swara wisel sing nggawe swara sementara ora krungu. Amarga ora
kuwat, arus kendaraan bisa mili kanthi lancar sanajan tanpa curling kacilakan
saka Pak Purba Klungsu. Endi wong e?
Kanthi nyediani sewu limangatus menehi telung pembalap sing nyadari
yen weteng sapa kudu dikebaki beras,
Pak Hsu Klungsu mlebu toko Yu Binah. Ing ngarep lawang toko wong lumpuh,
dheweke mlayu menyang loro
bakol
anyar sing rampung mangan
sego rames. Pakdhe Klungsu lungguh nyedhaki, diselehake ing
meja, banjur disigar rokok. Yu Binah disapa karo eseman. Ah, Pak Klungsu ora
bakal menehi kesempatan kanggo nikmati anake Yu Binah nalika dheweke nyiapake
raman beras. Utawa, mbok menawa Paman Klungsu duwe wektu angel nalika takon,
sing dikepengini, sih anake Yu Binah utawa rambute beras.
”Yu,
dhuwitku mung sewu limangatus.”
“Yo, ora opo opo. Ah, wiwit esuk kowe
kerjo
wisel ing persimpangan telu.
Dadi wetengmu mesthi keluwen. Saiki mangan nganti wareg.”
“Kanthi,
duwet sewu limangatus ya Yu?”
“Ya,
kuwi normal. Sampeyan ora usah
isin.
Sampeyan kenal aku wes suwe,to?”
Yu Binah malik
awak,
njupuk siji piring banjur dialihake menyang wadhah beras, ngangkat tutupe.
Klungsu
ing ati.
Banjur atine
ngerasa adem kaya disiram banyu nalika Yu
Binah mundhut piring kasebut. Isine
kebak ;
beras putih kanthi wuwuran
bawang goreng lan jangan buncis.
Adah sambal, botol kecap, lan segelas banyu putih uga disorongake.
“Ayo mangan. Sampeyan mesti wis luwe.”
Swara
iku krasa kaya dendang alam ing kupinge Pakdhe Klungsu. Nalika sedilut ndangak, Pakdhe Klungsu uga weruh pasuryan sing tulus iku. Mata kang bening, eseman kang prasaja. Pakdhe Klungsu ndeleng mudhun, mirsani rokok ing
asbak sing meh ora entek tanpa
diisep. Njupuk ambegan jero, banjur narik piring sing luwih cedhak. Ambune saka bawang goreng nggegirisi. Lan Pakdhe Klungsu
nyadari yen rega sega rames
sing dipangan mesthi wis sewu limang atus.
Sawise
mangan, Pakdhe
Klungsu ngucapake awake dhewe kanthi cara wong sing ngerti matur suwun. Sanajan dheweke
ngerti yen saka jam sanga nganti jam siji, lalu lintas ing persimpangan telu ora akeh, Pakdhe Klungsu ora kepengin ninggalake panggonan kasebut. Nanging, ing ngarep
pasar, Pakdhe Klungsu
kudu mandheg. Yu Binah nyelok dheweke
saka
mburi. Yu Binah mlaku cepet-cepet,
tangan kiwane
meremet
karo jempol lan driji. Nahan
rasa kang njijiki. Tangan tengene
nutupi irung lan tutuk.
”Hei, iki, peluite sampeyan keri. Ya ampun! Ambune busuk,” Yu Binah ngendika kanthi swara alon. “Sempritane sampeyan tansah kena
banyu, nanging sampeyan ora ngumbah? Idih, nyuwun pangapunten!”
“Ngono ta, Yu? Nanging sempritanku penting banget. Swarane duwe kekuwatan kanggo
ngatur persimpangan telu,”
mangsuli
Pakdhe Klungsu
nalika nyoba nyekel peluit sing dibanting Yu Binah.
“Iya, aku ngerti. Nanging, apa sempritanmu kang nduweni kakuwatan iku kudu mambu? Ah,
umbahen
barang busuk kuwi.
Hey, rungokno.
Sampeyan ojo
menyang tokoku sadurunge sempritane
sampeyan diumbah . Tenan ya?”
Pakdhe
Klungsu ngangguk
lan mesem. Sawise Yu Binah mbalik,
Paman Klungsu ngelamun.
Ujuk-ujuk dheweke kegodha kepengin bisa ngrasakake ambune sempritane dhewe. Banjur bolongan
ing barang cilik digawa menyang irunge.
O, Pakdhe Klungsu
ujuk-ujuk kaget lan bola-bali mrinding, banjur cuh! Banjur Pakdhe Klungsu mlaku kanthi limping nalika ndeleng mudhun, bali menyang
persimpangan telu.
Panas srengenge nyengat sirahe. Lan sempritan sakti sing mambu iku tetep ana ing gegemane.
kelompok 1
1. adelia rahmawati
2. adinda Agis Fitria C
9. Anggita dwi yuniati
22. ayu widya
26. cintya anggreini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar