Minggu, 07 Oktober 2018

Pak Lek klungsu lan Sempritan


PAMAN KLUNGSU DAN KUASA PELUITNYA

Di sekitar jalan simpang tiga dekat pasar, nama Paman Klungsu sudah lama mapan. Dia adalah sosok yang punya kuasa di tempat itu. Dengan andalan lengking peluitnya, Paman Klungsu bisa mengatasi kemacetan lalu lintas, terutama di pagi hari. Pada saat itu, para pedagang laki-laki dan perempuan seperti beradu cepat mencapai pasar. Mereka naik sepeda atau motor dengan dua keranjang di bagian belakang. Puluhan anak SMP dan SMA dengan motor yang knalpotnya dibobok juga berebut keluar dari jalan kampung ke jalan raya. Tanpa helm, tanpa SIM. Tetapi mereka kelihatan tak peduli dan amat percaya diri. Guru-guru SD, beberapa di antaranya sudah bermobil ikut menambah kepadatan lalu lintas di simpang tiga itu. Maka, orang bilang, untung ada Paman Klungsu yang dengan lengking peluitnya bisa memuat semua menjadi lancar.

Polisi lalu lintas belum pernah datang di sana. Tetapi, Paman Klungsu biasa memakai rompi lusuh bercap “Poltas Swakarsa” dengan tulisan spidol. Entah siapa penulisnya. Selain rompi lusuh warna pupus pisang yang berpendar, Paman Klungsu juga melengkapi diri dengan peluit plastik warna merah. Meskipun kecil, suara peluit itu amat nyaring dan terbukti wibawanya ditaati oleh para pengendara. Orang-orang sering bertanya mana yang paling berwibawa di simpang tiga itu; sosok Paman Klungsu atau peluitnya.

Empat-lima tahun yang lalu Paman Klungsu hanya orang lontang-lantung di pasar. Jalannya pincang. Kaki kirinya kecil dan lebih pendek. Sebatang kara, di malam hari jadi peronda pasar. Di siang hari jadi kuli angkut yang membawakan barang milik pedagang dari dalam pasar ke pinggir jalan atau sebaliknya. Para pedagang memberinya seratus atau dua ratus rupiah. Itu bekal Paman Klungsu untuk pergi ke warung nasi rames milik Yu Binah di belakang pasar.

Sekarang Paman Klungsu tidak lagi mengangkut-angkut barang milik pedagang. Dia merasa telah naik pangkat menjadi-dia menyebutnya sendiri-poltas swakarsa, yang amat dia banggakan. Apalagi Paman Klungsu juga sering mendapat uang receh. Itu pemberian sopir-sopir yang merasa bersimpati. Mereka menghargai jasa Paman Klungsu yang punya prakarsa mengatur lalu lintas di simpang tiga.

Pada awalnya Paman Klungsu sering dicibir orang. “Ah, kamu cuma polisi non-batu, polisi-polisian. Kamu hanya berani mengatur pedagang dan anak sekolah, tapi tidak berkutik bila yang lewat pejabat atau moge. Kamu juga selalu mengistimewakan Yu Binah. Kalau perempuan itu lewat selalu kamu bukakan jalan.”

Ketika menerima cibiran itu, Paman Klungsu hanya diam. Namun sebenarnya dia sungguh tersinggung. Jadi suatu kali dia bergerak cepat ketika ada sebuah mobil bersipongah mau melanggar aturannya. Dengan langkah terpincang-pincang, Paman Klungsu menghadang mobil bagus berpelat merah itu. Paman Klungsu berdiri tepat di depan mobil, tangan kanannya tegak lurus. Tetapi, kaki kirinya bersijingkat karena lebih pendek. Peluitnya melengking-lengking sekerasnya. Pengendara mobil itu mendengus dan berhenti dengan mata membulat. Kemarahan muncul penuh di wajahnya. Tetapi, Paman Klungsu bergeming. Dan di luar dugaan Paman Klungsu semua orang di simpang tiga bertepuk tangan mendukungnya. Peluit Paman Klungsu melengking makin nyaring dan bertubi-tubi. Tangan kanannya tetap menjulang ke atas. Orang- orang bersorak makin riuh.

Sejak peristiwa itu, Paman Klungsu makin percaya diri dan merasa lebih gagah. Dia senang karena ternyata orang-orang berada di pihaknya. Maka, dia mengulangi sikap itu; tidak mengutamakan siapa saja yang lewat. Juga barisan puluhan moge yang menderu menggila dari barat pada Jumat dan menggelegar pongah balik dari timur pada Ahad. Maka, Paman Klungsu dengan peluitnya adalah sosok kekuasaan yang nyata di simpang tiga itu. Sayangnya, orang-orang juga masih jadi saksi peluit Paman Klungsu tak pernah melengking nyaring terhadap Yu Binah. Bila dia lewat, Paman Klungsu selalu mendahulukannya, dengan keramahan yang nyata pula. Terhadap Yu Binah, peluit Paman Klungsu seakan bisu.

Ketika sedang istirahat pada suatu tengah hari di emper toko, ada orang bertanya, “Ah, kamu ternyata tetap mengutamakan Yu Binah. Ada apa ya? Awas, Yu Binah punya suami; kamu jangan macam-macam.”

Pertanyaan itu membuat Paman Klungsu ketakutan. Wajahnya mendadak beku. Bibirnya gemetar. Dia tergagap, dan kata-kata yang kemudian diucapkan terdengar patah-patah.

“Yu Binah? Iya. Dia memang punya suami. Dan saya tidak mengapa-apakan dia.” Paman Klungsu gugup. Namun, lama-kelamaan bicaranya lebih tertata. Katanya, dia banyak berutang budi kepada Yu Binah. Penjual nasi itu suka memberinya rames lengkap berapa pun Paman Klungsu membayarnya. Menyadari uangnya sering tidak cukup, tambahnya, dia biasa hanya minta nasi dan air putih. Lauknya cukup kecap dan sambal yang memang disediakan cuma-cuma. Tetapi, Yu Binah tetap memberinya nasi rames lengkap dengan taburan bawang goreng, tahu atau tempe, bahkan kadang ikan juga.

“Taburan bawang goreng di atas nasi hangat, ditambah sambal dan kecap, wah!”

“Jadi hanya karena bawang goreng, kamu merasa harus mengutamakan Yu Binah?”

Paman Klungsu tersipu, kemudian meneruskan penjelasannya. Katanya, ada sesuatu yang sangat mengesankan pada Yu Binah, yaitu gerak tubuh, terutama kedua tangannya ketika Yu Binah menyiduk nasi dari bakul lalu menampungnya dengan piring.

“Itu seperti tangan orang menari, atau apa. Itu pantes banget, perempuan banget. Tidak semua perempuan bisa seperti itu,” tambah Paman Klungsu.

Orang yang mendengar ucapan Paman Klungsu tertawa.

“Ah, kamu mengada-ada saja. Cuma bawang goreng dan gerak tangan perempuan menyiduk nasi mengapa kamu begitu terkesan?”

Jawaban Paman Klungsu keluar lagi setelah dia berdiam diri. Dia mengaku dirinya orang perasa sehingga mudah tersentuh oleh keanggunan yang tampak olehnya. Apalagi, tambahnya, keanggunan gerak Yu Binah ketika menyiduk nasi selalu disertai ketulusan yang nyata terlihat di wajahnya.

***

Ini jam 9 pagi, lalu lalang di simpang tiga sudah mereda. Anak-anak sekolah, para guru, dan pegawai sudah lama sampai ke tempat kerja masing-masing. Yang masih berkendara lewat simpang tiga hanya orang-orang yang mau pergi atau pulang dari pasar. Udara mulai panas dan suara lengking peluit buat sementara tak terdengar. Karena tidak padat, arus kendaraan bisa mengalir lancar meskipun tanpa lengking peluit Paman Klungsu. Ke mana dia?

Dengan bekal uang seribu lima ratus pemberian tiga sopir yang menyadari perut siapa pun harus diisi nasi, Paman Klungsu masuk ke warung Yu Binah. Di depan pintu warung lelaki pincang itu berpapasan dengan dua pedagang yang baru selasai makan nasi rames. Paman Klungsu duduk sendiri, meletakkan peluitnya di atas meja, lalu menyulut rokok. Yu Binah menyambutnya dengan senyum. Ah, Paman Klungsu tidak akan melepaskan peluang menikmati keanggunan gerak Yu Binah ketika perempuan itu sedang menyiapkan nasi rames. Atau, barangkali Paman Klungsu sulit menjawab bila ditanya, mana yang lebih dia sukai, keanggunan gerak Yu Binah atau nasi ramesnya.

“Yu, uangku cuma seribu lima ratus.”

“Ya, tidak apa. Ah, sejak pagi kamu kerja keras tiup-tiup peluit di simpang tiga. Jadi perutmu tentu lapar. Sekarang makanlah sampai kenyang.”

“Dengan uang seribu lima ratus ya, Yu?”

“Ya, itu kan biasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu sudah lama mengenal aku, kan?”

Yu Binah memutar badan, mengambil satu piring lalu bergeser ke dekat wadah nasi, mengangkat ciduk. Paman Klungsu menatapnya dari samping dengan mata tanpa kedip. Rokoknya dibiarkan tak tersentuh di atas asbak dengan asap terus mengepul. “Itu betul sebuah lenggang yang pantes banget, dan aku tidak akan bosan melihatnya,” ujar Paman Klungsu dalam hati. Dan kemudian hatinya merasa sejuk seperti diguyur air ketika Yu Binah menyorongkan piring itu. Isinya penuh; nasi putih dengan taburan bawang goreng dan sayur buncis. Wadah sambal, botol kecap, dan segelas air putih disorongkan juga.

“Ayo makan. Kamu tentu sudah lapar.”

Suara itu terasa seperti dendang alam di telinga Paman Klungsu. Ketika sekejap menengadah, Paman Klungsu juga melihat wajah tulus itu. Mata yang jernih, senyuman yang polos, sederhana. Paman Klungsu menunduk, memperhatikan rokok di asbak yang hampir habis tanpa diisap. Menarik napas panjang, lalu menarik piring lebih dekat. Aroma bawang goreng membangkitkan seleranya. Dan Paman Klungsu sadar, harga nasi rames yang sedang dimakan pasti di atas seribu lima ratus.

Selesai makan, Paman Klungsu minta diri dengan cara orang yang amat mengerti berterima kasih. Meskipun tahu dari jam sembilan sampai jam satu lalu lintas di simpang tiga tidak ramai, Paman Klungsu tidak mau terlalu lama meninggalkan tempat itu. Namun, sampai di depan pasar Paman Klungsu harus berhenti. Yu Binah memanggil-manggilnya dari belakang. Yu Binah berjalan tergesa-gesa, tangan kirinya menjimpit sesuatu dengan ibu jari dan telunjuk. Menahan rasa jijik. Tangan kanannya menutup hidung dan mulut.

“He, ini, peluitmu tertinggal. Idih, ampun! Baunya busuk sekali,” kata Yu Binah dengan suara teredam oleh bungkaman tangan sendiri. “Peluitmu selalu kena ludah tapi tidak pernah kamu cuci ya? Idih, minta ampun busuknya!”

“Begitu ya, Yu? Tetapi, peluitku amat penting. Bunyinya berkuasa mengatur simpang tiga,” jawab Paman Klungsu sambil berusaha menangkap peluit yang dilemparkan Yu Binah ke arahnya.

“Iya, lah, aku tahu. Namun, mengapa peluitmu yang punya kuasa itu harus bau busuk? Ah, cucilah barang busuk itu. He, dengar. Kamu jangan ke warungku sebelum peluit itu kamu cuci. Benar ya?”

Paman Klungsu mengangguk dan tersenyum. Setelah Yu Binah berbalik, Paman Klungsu termangu sejenak. Mendadak dia tergoda untuk mencoba merasakan sendiri bau peluitnya. Maka lubang pada barang kecil itu didekatkan ke hidungnya. O, Paman Klungsu mendadak tersentak dan berkali-kali bergidik, lalu cuh! Kemudian Paman Klungsu berjalan terpincang-pincang sambil menunduk, pulang ke simpang tiga. Panas matahari menyengat kepalanya. Dan peluit sakti yang bau busuk itu tetap dalam genggaman.




PAMAN KLUNGSU LAN KUWASA SEMPRITANE

Neng sak andinge dalan simpang telu cedek pasar, jeneng Pakdhe Klungsu wis sui mapan. Dheweke yaiku wong sing nduwe kuasa panggonan kui.nganggo andalan suara peluite, Pakdhe Klungsu bisa ngatasi macet neng dalan gede, luwih luwih ning wayah isuk. Pas dina kui, wong sing dodolan lanang lan wadon kayata disik disikan teka pasar. Wong dodolan kui numpak sepedha motor sing ana ranjang e kiwa tengen neng mburi. Akehe bocah SMP lan SMA nganggo motor sing knalpote dibobok uga royokan metu saka dalan deso menyang dalan raya. Tanpa nanggo helm, tanpa ndue SIM. Ananging dheweke ketok ora peduli lan percaya diri. Guru-guru SD, sing wis numpak mobil melu nambah padete dalan raya simpang telu kui. Mula, uwong ngomong, untung ana Pakdhe Klungsu nganggo bantere peluite bisa gawe kabeh dadi lancer.
Polisi lalu lintas urung pernah teka neng kana. Ananging, Pakdhe Klungsu biasa nganggo rompi lusuh sing cap e “Poltas Swakarsa” nganggo tulisan spidol. Ora weruh sapa sing nulisi. Sak liane rompi lusuh werna pupus gedhang sing berpendar, Pakdhe Klungsu uga ngelengkapi awak nganggo peluit plastik werna abang. Senadyan cilik, suara peluit kui banter lan mbuktekne nduweni wibawa ditaati karo wong sing neng dalan raya. Wong wong sing tekon ndi sing paling nduweni wibawa neng simpang telu iku; Pakdhe Klungsu utawa peluite.

Papat-lima taun kepungkur Pakdhe Klungsu amung wong lontang-lantung neng pasar. Lakune  pincang. sikil kiwane cilik uga ndek. Dhewekan, wayah wengi dadi ronda pasar. Neng wayah awan dadi kuli angkut sing nggawakne barang nggone wong dodolan saka jero pasar menyang pinggir dalan gedhe lan sak walike. Wong sing nyambat ngewenehi dhewek e satus utawa rongatus rupiah. Dhuwik kui di nggo Pakdhe Klungsu kanggo lunga menyang warung sega rames nggone Yu Binah neng mburi pasar
Sak iki Pakdhe Klungsu ora meneh ngangkut barang nggone wong dodolan. Dheweke ngerasa uwis munggah pangkat. Dhewek e ngarani awake dhewe poltas swakarsa,sing di banggak banggakne. Apa meneh Pakdhe Klungsuuga tau oleh dhuwik receh. Iku olehe ngekeki sopir-sopir sing ngerasa mesakke. Para pengendara ngeragani jasa Pakdhe Klungsu sing ndiweni prakarsa ngatur lalu lintas neng simpang telu.

Awal e Pakdhe Klungsu tau dilokne wong. “Ah, kowe kui amung polisi non-batu, polisi-polisian. Kowe kui amung wani ngatur wong dodolan karo bocah bocah sekolah, nanging ora bisa apa apa yen sing lewat pejabat utawa moge. Kowe kui mesti ngistimewakne Yu Binah. Yen wong wadon kui lewat mesti mbok bukakne dalan.”
Ing awale paman Klungsu kawitan asring dicemoake uwong. ”Ah,, sampeyan mung petugas polisi non-batu, petugas polisi. Sampeyan mung wani ngatur pedagang lan bocah sekolah, nanging ora bisa ngalih yen sampeyan ngliwati pejabat utawa moge. Yu Binah uga seneng. Yen wanita liwat sampeyan tansah mbukak dalan.

Nalika ditampa, Paman Klungsu mung nglangi. Nanging dheweke pancen kesengsem. Dadi siji wae nalika dheweke pindhah kanthi cepet nalika ana mobil, dheweke pengin ngalahake aturan kasebut. Kanthi langkah limping, Pak Hsu Klungsu nyerang mobil apik kanthi plat abang. Pakdhe Klungsu jumeneng ing ngarep mobil, tangan tengene jejeg. Nanging, sikil kiwa ditandhingake amarga luwih cendhek. Pandhuane wis sumelang banget. Pengendara mobil kasebut mendingan lan mandheg kanthi mata bunder. Anger katon kebak ing raine. Nanging, Uncle Klungsu ora maju. Lan ora sengaja Pakdhe Klungsu sing ana ing persimpangan saka telung klambi mau banjur ngajak. Pakdhe pakdhe pakurmatan ngeculake luwih akeh. Tangan tengene tetep munggah. Wong-wong padha nguwuh kanthi swara sora.

Wiwit kedadean kasebut, Pak Hsu Klungsu luwih percaya diri lan tambah manawa. Dheweke seneng banget amarga wong iku ana ing sisihane. Dadi, dheweke ngelingake sikap kasebut; aja menehi prioritas sapa sing liwat. Uga ana puluhan moguls roaring sing metu saka sisih kulon ing Jumat lan bali menyang sisih wétan, Minggu. Dadi, Pak Purwa Klungsu karo jarahane dadi tokoh sing kuat ing persimpangan kasebut. Saliyane, wong-wong uga isih nyekseni kacamata Klungsu pamane ora tau nyerang Yu Binah. Nalika dheweke liwati, Pak Hsu Klungsu tansah ngetrapake dheweke dhisik, kanthi rasa seneng banget. Yu Binah melu, peluit Pak Ubi Klungsu katon bisu.

Nalika istirahat ing tengah dinane ing kaisar toko, ana wong sing takon, "Ah, sampeyan wis ngetokake Yu Binah. Ana apa? Awas, Yu Binah ndue bojo sampeyan ora kena kekacoan

Pitakonan kasebut ndadekake Pakdhe Klungsu ketaman. Weruh dheweke tiba-tiba beku. Lambene dheweke gemeter. Panjenenganipun nganglangi, lan tembung-tembung sing banjur diucapake kanthi rusak.



Yu Binah? Inggih. Dheweke ancen wes nduwe bojo. Lan aku ora ngapak- ngapakne deweke“ Pakdhe Klungsu ngewel. Nanging, suwe-suwe ngandikane diatur. Ngandika, dekne ana akeh utang budine marang Yu Binah. Bakul sego Rames iku seneng nguwehi sego rames lengkap piro ae pakdhe klungsu mbayarine. Sadar lak dhuwite ora cukup kango mbayari, dekne mung njalok sego lan banyu putih. Lawuh ake mung kecap lan sambel kang gratis. Nanging, Yu Binah isih nguwehi sego rames lengkap nganggo bawang goreng, tahu utawa tempe, sok-sok uga iwak
.
“ Bawang goreng ning duwur e sego anget. Di tambah sambel lan kecap. Wahhh “

“ Dadi mung amarga bawang goreng, kowe nguwehi prioritas ning Yu Binah ?

Pakdhe Klungsu kaget, banjur tindak ing kanggo nerangake. Jarene, ana sing kesengsem banget marang Yu Binah, yaiku polah awak e Yu Binah, utamané nalika Yu Binah  nyiduk sego nganggo 2 tangane saka wakul lan dikek piring.
 Wong sing krungu ngendikane Pakdhe Klungsu banjur ngguyu.
 “Ah. Weki lo enek enek wa. Nggur bawang goreng lan polah tangan e Yu Binah nyiduk sego wae kowe kesengsem? ”
Jawaban Pakdhe Klungsu sawise bisu. Dhèwèké ngaku dek ne wong sing gampang nglebokake ing njero ati sing didelok nganggo panca indran. Menapa, keanggunan gerakane Yu Binah nalika nyiduk sego ditambah nyiduk e nganggo  ikhlas ing ati. katresnan nyata katon ing pasuryane.

Iki jam 9 esuk, maringaken ing persimpangan ketiga wis ngurangi. Bocah sekolah, guru, lan karyawan wis suwe teka ing papan kerja. Apa sing isih nyopir ing persimpangan saka telung mung wong sing pengin lunga utawa mulih saka pasar. Angin wiwit panas lan swara wisel sing nggawe swara sementara ora krungu. Amarga ora kuwat, arus kendaraan bisa mili kanthi lancar sanajan tanpa curling kacilakan saka Pak Purba Klungsu. Endi wong e?

Kanthi nyediani sewu limangatus menehi telung pembalap sing nyadari yen weteng sapa kudu dikebaki beras, Pak Hsu Klungsu mlebu toko Yu Binah. Ing ngarep lawang toko wong lumpuh, dheweke mlayu menyang loro bakol anyar sing rampung mangan sego rames. Pakdhe Klungsu lungguh nyedhaki, diselehake ing meja, banjur disigar rokok. Yu Binah disapa karo eseman. Ah, Pak Klungsu ora bakal menehi kesempatan kanggo nikmati anake Yu Binah nalika dheweke nyiapake raman beras. Utawa, mbok menawa Paman Klungsu duwe wektu angel nalika takon, sing dikepengini, sih anake Yu Binah utawa rambute beras.

Yu, dhuwitku mung sewu limangatus.

Yo, ora opo opo. Ah, wiwit esuk kowe kerjo wisel ing persimpangan telu. Dadi wetengmu mesthi keluwen. Saiki mangan nganti wareg.

Kanthi, duwet sewu limangatus ya Yu?

Ya, kuwi normal. Sampeyan ora usah isin. Sampeyan kenal aku wes suwe,to?

Yu Binah malik awak, njupuk siji piring banjur dialihake menyang wadhah beras, ngangkat tutupe.

Klungsu ing ati. Banjur atine ngerasa adem kaya disiram banyu nalika Yu Binah mundhut piring kasebut. Isine kebak ; beras putih kanthi wuwuran bawang goreng lan jangan buncis. Adah sambal, botol kecap, lan segelas banyu putih uga disorongake.
Ayo mangan. Sampeyan mesti wis luwe.
Swara iku krasa kaya dendang alam ing kupinge Pakdhe Klungsu. Nalika sedilut ndangak, Pakdhe Klungsu uga weruh pasuryan sing tulus iku. Mata kang bening, eseman kang prasaja. Pakdhe Klungsu ndeleng mudhun, mirsani rokok ing asbak sing meh ora entek tanpa diisep. Njupuk ambegan jero, banjur narik piring sing luwih cedhak. Ambune saka bawang goreng nggegirisi. Lan Pakdhe Klungsu nyadari yen rega sega rames sing dipangan mesthi wis sewu limang atus.
Sawise mangan, Pakdhe Klungsu ngucapake awake dhewe kanthi cara wong sing ngerti matur suwun. Sanajan dheweke ngerti yen saka jam sanga nganti jam siji, lalu lintas ing persimpangan telu  ora akeh, Pakdhe Klungsu ora kepengin ninggalake panggonan kasebut. Nanging, ing ngarep pasar, Pakdhe Klungsu kudu mandheg. Yu Binah nyelok dheweke saka mburi. Yu Binah mlaku cepet-cepet, tangan kiwane meremet karo jempol lan driji. Nahan rasa kang njijiki. Tangan tengene nutupi irung lan tutuk.
Hei, iki, peluite sampeyan keri. Ya ampun! Ambune busuk, Yu Binah ngendika kanthi swara alon. “Sempritane sampeyan tansah kena banyu, nanging sampeyan ora ngumbah? Idih, nyuwun pangapunten!
“Ngono ta, Yu? Nanging sempritanku penting banget. Swarane duwe kekuwatan kanggo ngatur persimpangan telu,” mangsuli Pakdhe Klungsu nalika nyoba nyekel peluit sing dibanting Yu Binah.
“Iya, aku ngerti. Nanging, apa sempritanmu kang nduweni kakuwatan iku kudu mambu? Ah, umbahen barang busuk kuwi. Hey, rungokno. Sampeyan ojo menyang tokoku sadurunge sempritane sampeyan diumbah . Tenan ya?
Pakdhe Klungsu ngangguk lan mesem. Sawise Yu Binah mbalik, Paman Klungsu ngelamun. Ujuk-ujuk dheweke kegodha kepengin bisa ngrasakake ambune sempritane dhewe. Banjur bolongan ing barang cilik digawa menyang irunge. O, Pakdhe Klungsu ujuk-ujuk kaget lan bola-bali mrinding, banjur cuh! Banjur Pakdhe Klungsu mlaku kanthi limping nalika ndeleng mudhun, bali menyang persimpangan telu. Panas srengenge nyengat sirahe. Lan sempritan sakti sing mambu iku tetep ana ing gegemane.



kelompok 1
1. adelia rahmawati
2. adinda Agis Fitria C
9. Anggita dwi yuniati
22. ayu widya
26. cintya anggreini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar